Menu

Mode Gelap
Duka di Stadion Kanjuruhan, Wagub Riza Patria: Tak Boleh Terulang Anies Baswedan Sebut Polarisasi dalam Politik Tak Hanya Isu Agama

bei · 21 Sep 2022 08:26 WIB ·

Makin Banyak Milenial jadi Investor Saham, ini Dampaknya ke Kurs


 Makin Banyak Milenial jadi Investor Saham, ini Dampaknya ke Kurs Perbesar

CurahMedia.com – Dalam beberapa tahun terakhir, gairah investasi di pasar modal semakin tinggi. Terutama saat pandemi Covid-19. pertumbuhan investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) terbilang cepat. Diimbangi dengan pertumbuhan dari sisi rata-rata nilai transaksi, volume, dan frekuensi.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara menuturkan, jumlah investor ritel di pasar modal melonjak signifikan hingga akhir Mei 2022. Mencapai 8,86 juta atau telah meningkat 18,29 persen secara year-to-date (YtD) .

Salah satu penyebab pertumbuhan investor ritel adalah beban kerja akibat pandemi. Sehingga memberi sebagian waktu lebih untuk memperoleh penghasilan sekunder di pasar keuangan.

Selain itu, berkurangnya rekreasi karena kegiatan sosial juga mendorong masyarakat untuk menabung dan berinvestasi. Faktor berikutnya adalah rendahnya tingkat suku bunga selama 2019-2021. Hal tersebut membuat masyarakat mencari instrumen investasi dengan hasil yang lebih tinggi dibandingkan tabungan.

“Tren itu tidak terlihat di Indonesia, namun juga hampir hampir di seluruh dunia. Di Amerika Serikat (AS) pertumbuhan investor ritel 2021 tumbuh 25 persen, di India kenaikan investor ritel sampai 45 persen (sejak awal pandemi Covid-19 hingga semester I 2021),” kata Bhima dalam pemaparan hasil studi Celios dan Pluang, kemarin (20/ 9).

Di sisi lain, kemajuan teknologi turut meningkatkan minat investasi masyarakat. Kemunculan aplikasi investasi ritel menawarkan kemudahan akses. Mulai aplikasi saham, emas digital, reksa dana, surat berharga negara, maupun aplikasi multi-aset yang menawarkan beragam instrumen tersebut.

Karena, peningkatan investor ritel yang didominasi oleh generasi milenial (kelahiran 1981-1996) dan gen-Z (kelahiran 1997-2012). Dua kelompok tersebut mencakup 82 persen dari total jumlah investor ritel di Indonesia.

Nah, investor muda saat ini cenderung lebih melek digital. Menyukai transaksi yang serba berani, cepat, murah, serta memiliki beragam pilihan instrumen investasi.

Tren investasi secara digital juga menerapkan integrasi platform pembayaran. Ada pula kode referral untuk promosi sehingga menarik minat pengguna. Ditambah, modal awal yang rendah dan biaya transaksi yang murah.

“Rp 10 ribu atau Rp 50 ribu sudah bisa jadi investor. Jadi sangat gampang. One klik masyarakat langsung bisa melakukan berbagai transaksi,” terangnya.

Pesatnya perkembangan inovasi teknologi finansial tidak hanya memudahkan masyarakat mengakses produk dan layanan jasa keuangan. Namun juga meningkatkan minat untuk mulai berinvestasi.

Ketika sudah berinvestasi melalui multi-aset, masyarakat semakin tertarik untuk membangun portofolionya. kaya akan berbagai pilihan instrumen investasi lainnya.

melihat setiap kelompok investor memiliki profil risiko yang berbeda-beda, melalui aplikasi akan memudahkan investor untuk diperluas, mendiversifikasi, dan mengawasi portofolio asetnya dengan lebih mudah. Selain itu, platform keuangan digital juga berperan dalam peningkatan literasi pengguna.

Edukasi dilakukan melalui panduan dalam aplikasi bagi pengguna baru, seminar, konten media sosial, artikel blog, maupun fitur-fitur forum dan komunitas untuk memfasilitasi sesama pengguna bertukar informasi. “Dengan keahlian dari segi platform, dasar pengguna, dan pengetahuan yang dimiliki, platform investasi dapat memiliki peran besar dalam peningkatan literasi keuangan,” jelas lulusan University Of Bradford itu.

Menurut Bhima, kontribusi investor domestik domestik membantu meningkatkan pembiayaan pembangunan dan menjaga keamanan sistem keuangan dalam menghadapi ketidakpastian global. Juga, akan mengurangi tekanan arus keluar modal akibat risiko-risiko yang disebabkan oleh faktor global tersebut. Sehingga meningkatkan nilai tukar dan perekonomian nasional akan lebih solid.

Tecermin dari data yang diolah Celios sepanjang Januari-Mei 2022, saat Covid-19 varian Omicron merebak, sebanyak Rp 37,8 triliun dana asing keluar dari SBN. Begitu pula dana perbankan yang keluar mencapai Rp 36,9 triliun.

Pada saat yang sama, dana investor ritel domestik masuk sebanyak Rp 1,6 triliun. Ditambah dari asuransi dan dana pensiun Rp 2,6 triliun, serta Bank Indonesia yang membeli SBN sebesar Rp 7,1 triliun.

Di pasar saham, data BEI mencatat nilai transaksi investor ritel pada Januari-Mei 2022 mencapai 45 persen dari total transaksi di pasar saham. Sedangkan investor institusi mencapai 16 persen.

“Nilai transaksi harian di pasar modal dapat mencapai Rp 15,8 triliun sehingga investor ritel diperkirakan bertransaksi hingga Rp 7,1 triliun setiap hari. Ini porsi yang cukup besar dari investor ritel. Ini akan sangat mendukung produktivitas, efisiensi, dan kemajuan ekonomi Indonesia,” jelas Bima.

Sayangnya, penentuan investor untuk berinvestasi setelah melihat pemengaruh di media sosial. Padahal, belum tentu pemengaruh tersebut memiliki pemahaman yang mendalam tentang investasi dan keuangan.

Direktur Humas Otoritas Jasa Keuangan Darmasnsyah tak menampik fenomena tersebut. Aspek edukasi merupakan bagian dari perlindungan konsumen. Apalagi, pandemi pendanaan proses inovasi digitalisasi di sektor.

regulator membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan sosialisasi. Agar masyarakat tidak terjebak dengan investasi ilegal. “Makanya ini perlu kami tingkatkan edukasi bagi para investor milenial,” ujarnya.

CURAHMEDIA.COM
Artikel ini telah dibaca 0 kali

Baca Lainnya

Ekspansi Hotel di Rest Area, Puri Sentul Permai Gaet Swiss-Belhotel

1 Desember 2022 - 15:37 WIB

Ekspansi Hotel di Rest Area, Puri Sentul Permai Gaet Swiss-Belhotel

Nilai Rupiah Menguat, Sementara Inflasi Akan Menentukan Sikap ‘Hawkish’ BI

1 Desember 2022 - 14:53 WIB

Nilai Rupiah Menguat, Sementara Inflasi Akan Menentukan Sikap 'Hawkish' BI

BBM Pertamina Non Subsidi Resmi Naik Per 1 Desember 2022, Ini Harganya

1 Desember 2022 - 14:35 WIB

BBM Pertamina Non Subsidi Resmi Naik Per 1 Desember 2022, Ini Harganya

BI Optimistis Inflasi Berada di Bawah 3 Persen pada 2023 dan 2024

1 Desember 2022 - 13:34 WIB

BI Optimistis Inflasi Berada di Bawah 3 Persen pada 2023 dan 2024

Langkah Segar Kumala Pacu Kinerja Usaha di Tengah Ancaman Resesi

1 Desember 2022 - 12:32 WIB

Melantai di Bursa, BSBK Catatkan Oversubscribed 25,37 Kali

Luhut Sebut Pemerintah Bakal Beri Subsidi Motor Listrik Rp 6,5 Juta

1 Desember 2022 - 11:31 WIB

Luhut Sebut Pemerintah Bakal Beri Subsidi Motor Listrik Rp 6,5 Juta
Trending di 5 juta

Sorry. No data so far.